Wednesday, 22 August 2012

Seumur Hidup Nggak Pernah Kerja!



Ini sharing dari perjalanan saya ke Bali baru-baru ini...

Seumur Hidup Nggak Pernah Kerja!
Oleh Agung Basuki

Minggu lalu, saya sedang berada di Bali untuk bertemu dengan rekan bisnis yang mengelola persewaan villa di Bali bersama saya. Rekan bisnis saya ini, Ninie, mengajak untuk bertemu di daerah Double Six, tepatnya di Cafe/Resto Lanai yang terletak persis di seberang bibir pantai Double Six.

Saat tengah asyik berbincang bagaimana mengembangkan situs persewaan villa mewah di Bali dengan harga murah meriah tersebut, mendadak Ninie melihat sekelebat sosok yang dia kenal sedang memasuki pelataran cafe. Dia kemudian bergegas menyapa lelaki separoh baya yang tampaknya sangat 'biasa saja' itu.

Setelah beberapa menit berbincang cukup akrab dengan pria tersebut, Ninie kembali ke tempat saya berada.

"Tahu nggak," katanya setelah duduk kembali di tempatnya. "Orang yang tadi aku ajak ngomong barusan itu, nggak pernah bekerja seumur hidupnya!"

Hmm... nggak pernah kerja? Atau nggak mau kerja ya? Ada terlintas pertanyaan demikian di benak saya.

"Stevan (nama pria kenalan Ninie tadi), dia itu tuh mewarisi kekayaan luar biasa banyaknya dari bapaknya yang bangsawan Prancis", sambung Ninie. "Dulu dia pernah bilang kalo mempunyai 18 kastil di Prancis. Selama ini dia baru menjual 2 buah dan hasilnya bisa dipake untuk hidup mewah sampai sekarang ini."

"Wow..." hanya kata itu yang sanggup keluar dari mulut saya. Kagum, kok bisa ya orang nasibnya semujur itu? Kok ternyata ada ya orang yang hidupnya seperti layaknya cerita-cerita dongeng yang sering saya baca di waktu kecil.

"Tapi kayaknya hidupnya nggak bahagia deh," lanjut Ninie lagi. "Bayangkan, seumur hidup dia nggak pernah tahu gimana caranya menghadapi sulitnya kehidupan. Semua yang dia inginkan bisa terbeli. Kalo kayak gitu kan hidup kesannya jadi datar-datar aja..."

Dari cerita Ninie, selama hidupnya Si "Richie-Rich" ini senantiasa menghabiskan waktu dengan berkeliling dunia. Dia berpindah-pindah hidup dari satu tempat ke tempat lain hanya untuk mencari suasana baru. Di setiap tempat yang dia singgahi, Stevan selalu menyewa villa mewah yang harga sewanya bisa mencapai ribuan dollar/hari. Tentunya, dengan harga segitu, dia pasti mendapatkan spot terbaik ya di tempat-tempat yang dia singgahi. Contohnya pas berkunjung ke Bali kali ini, Stevan tinggal di sebuah villa mewah yang terletak persis di pinggir pantai di daerah Nusa Dua. Konon harga sewa/bulannya mencapai lebih dari 20,000USD! Dan biasanya dia tinggal di satu negara dalam kurun waktu 3-6 bulan. Wuih.... gile banget ya!

Trus apa yang dilakukannya untuk keseharian? Bangun tidur, biasanya dia minum kopi dan membaca buku. Begitu yang dilakukannya terus menerus seumur hidup, sehingga tak heran jika dia nyambung banget kalo diajak ngomong dengan topik apapun.

Masih dari penuturan Ninie, ternyata si Stevan ini sekarang statusnya sedang menjomblo. Dulu dia pernah menikah, tetapi kemudian bercerai. Kabarnya sih, dari hasil perceraian tersebut, bekas istri si Stevan mendapatkan bagian harta 'gono-gini' hampir U$100 juta! Kalau menurut saya sih, itu mungkin hanya sebagian kecil saja ya dari total harta yang dimiliki si Stevan. Semenjak itu, si Stevan kemudian betah hidup melajang dan senantiasa bepergian ke mana saja sesuka hatinya.

Pikir punya pikir, biasanya tuh manusia hidupnya senantiasa 'mencari' tantangan. Mungkin untuk sebagian dari kita, membaca apa yang saya tuliskan di atas, tentu bisa membuat iri. Pasti ada diantara kita (termasuk saya juga, awalnya) yang berpikir, enak banget tuh kaya raya kayak si Stevan. Apa yang ingin dibelinya bisa terlaksana tanpa harus berpikir masalah duit.

Saya pernah membaca bahwa efek kebahagiaan yang dihasilkan dari memiliki uang yang banyak (misalnya, memenangkan hadiah undian bernilai miliaran rupiah) biasanya hanya berlangsung paling lama satu-dua bulan saja. Selebihnya, tidak ada yang istimewa dengan perasaan kita tentang hal tersebut.

Saya jadi membayangkan, betapa membosankan hidup si Stevan lantaran sejak dia lahir sampai sekarang (kalo dilihat penampilannya sih, dia berumur lebih dari 50 tahun), hidupnya selalu bergelimang harta yang tak habis-habisnya. Dia mungkin tidak pernah merasakan 'roller-coaster'nya kehidupan yang dialami oleh kebanyakan manusia 'normal' lainnya.

Orang yang hidupnya terlampau enak, tidak akan pernah bisa menghargai apa itu 'enak', demikian kata pepatah. Karena itu tak heran jika kita sering melihat bahwa banyak sekali orang-orang kaya yang hidupnya tampak sia-sia karena dia tidak tahu apa yang harus dilakukannya untuk membuatnya lebih berarti.

Pertanyaan saya sekarang: kalau Anda jadi si Stevan, apa yang akan Anda lakukan?

Sampai lain waktu...

Agung Basuki

No comments:

Post a Comment